Showing posts with label PSK. Show all posts
Mencari penghidupan sebagai Pekerja
Seks Komersial (PSK) ternyata tak
semudah yang dibayangkan orang-orang pada umumnya. Menjadi Pekerja Seksual tentu bukan mimpi bagi setiap orang, namun jika sudah menjadi suratan takdirnya siapapun tak bisa menolak. Begitu juga para artis Indonesia ini. Mereka menjadi PSK karena tuntutan skenario.
Untuk kepentingan
bermain film, beberapa aktris Indonesia pun harus melakukan observasi
terlebih dahulu. Turun ke tempat-tempat PSK biasa 'bekerja', dan
mempelajari apa saja yang dilakukan mereka pun dilakoni para artis.
Siapa saja artis-artis Indonesia yang pernah menjadi PSK? langsung aja di simak ..
1. Masayu Anastasia
Dalam film SUSAH JAGA KEPERAWANAN DI JAKARTA, Masayu mendapat peran
sebagai Srinthil, seorang gadis desa Kandang Jago. Film komedi Indonesia
yang dirilis 2 Desember 2010 ini disutradarai oleh Joko Nugroho.
Berkisah tentang tiga sekawan yang lari ke kota karena menolak
dijudohkan, akhirnya Srinthil ditawari pekerjaan sebagai PSK.
2. Leylarey Lesesne
Gadis kelahiran Jakarta, 17 Juli 1990 ini adalah seorang putri dari ayah
keturunan Amerika Perancis dan ibu asal Sunda. Ia kerap mendapat peran
seksi di beberapa film yang dibintanginya. Dalam film NOT FOR SALE dan
AKIBAT PERGAULAN BEBAS, Leylarey didaulat untuk memerankan seorang gadis
yang dekat dengan kehidupan malam dan keliarannya.
3. Uli Auliani
Dalam film AKIBAT PERGAULAN BEBAS, Uli didaulat berperan sebagai PSK.
Demi peran tersebut, Uli melakukan observasi langsung ke dalam
lingkungan PSK. Ia mengikuti kegiatan sehari-hari salah seorang PSK, dan
bahkan rela membayar demi mempelajari bagaimana menjadi seorang PSK.
4. Happy Salma
Menjadi seorang aktris, harus siap
mendapat peran apa saja. Demi totalitas di dunia akting, peran sebagai
pekerja seks komersial (PSK)
pun diterima Happy Salma. Ia berperan sebagai pelacur dalam film 7 HATI
7 CINTA 7 WANITA. Happy kemudian kembali berakting untuk peran serupa
dalam sinteron miniseri ABAH besutan Hanung Bramantyo.
5. Ardina Rasti
Gadis bernama lengka R. A. Ardina Rasti Widiani ini pernah membintangi
beberapa sinetron dan film. Ia juga pernah menjadi model video klip.
Rasti juga merambah dunia tarik suara dan telah mengeluarkan album.
Dalam kiprahnya sebagai aktris, Rasti pernah memerankan tokoh sebagai
PSK dalam film VIRGIN.
6. Angie
Anggia Yulia Angely atau dikenal pula
dengan nama Anggia Yulia Hanafiini
lahir di Serang, Banten, 25 Juli 1983. Angie merupakan seorang aktris
yang dikenal berperan sebagai Katie dalam film VIRGIN. Katie adalah
seorang pelajar SMU yang terjerumus dalam pergaulan bebas dan pelacuran
demi memenuhi tuntutan kehidupan konsumtifnya.
Gang - gang sempit dengan rumah yang saling berhimpitan menjadi
pandangan khas di Kebon Singkong, Kelurahan Klender, Jakarta Timur.
Inilah kampung pengemis. Ada sekitar 3 RW di kawasan ini. Warga yang
tinggal di Kebon Singkong kebanyakan pendatang. Mayoritas mereka berasal
dari Indramayu, Jawa Barat.
Dulunya kawasan padat penduduk ini hanyalah hamparan kebun singkong. Namun sejak tahun 1980-an perlahan - lahan rumah semi permanen dibangun menggantikan tanaman singkong. “Sampai sekarang meski perkebunan singkong sudah tidak ada, kampung ini tetap disebut Kebon Singkong,” kata Yayan, tokoh pemuda di Jakarta Timur.
Seiring perkembangan, daerah Kebon Singkong menjadi kawasan padat dan ramai. Bahkan kawasan ini belakangan dilabeli "danger" sebab banyak residivis yang bersembunyi dan tinggal di kawasan ini.
Selain dikenal sebagai daerah yang rawan kriminalitas, daerah ini juga disebut - sebut sebagai kampung jablay. Dulu banyak perempuan penghibur yang sering mangkal di lokalisasi Prumpung, Jatinegara, mengontrak di daerah ini. Namun seiring meredupnya lokalisasi Prumpung, para pekerja seks komersial ( PSK ) yang tinggal di daerah tersebut perlahan berkurang. Sekarang di Kebon Singkong banyak dihuni para pengemis. Mereka adalah warga Indramayu.
“Setiap bulan puasa ratusan orang dengan menumpang truk datang ke sini mengontrak rumah," ujar Berra Hanson, warga Kebon Singkong. Hanson yang memiliki 20 petak kontrakan mengaku kecipratan untung setiap bulan puasa. Sebab seluruh kontrakannya penuh terisi. Padahal bulan biasa paling hanya terisi separuhnya. Para pengontrak itu adalah pengemis yang rutin beroperasi di wilayah Menteng dan Jatinegara.
Tarif kontrakan milik Hanson bervariasi. Untuk petakan yang ada di bawah yang ukurannya 3 x 6 meter dipatok Rp 350 ribu - Rp 500 ribu per bulan. Untuk petakan yang di atas yang ukuranya lebih kecil harga sewa yang dikenakan Rp 150 ribu - Rp 250 ribu. Harga - harga itu sudah termasuk biaya listrik. "Biar pengemis mereka bayar kontrakan selalu tepat waktu. Dan mereka membayar dengan uang pecahan seribuan hasil mengemis. Sudah diiketin duitnya sama mereka," celetuk Hanson sambil tersenyum.
Di Kebon Singkong, terdapat ratusan kontrakan yang dihuni para pengemis. Kalau bulan puasa tiba, jumlahnya makin banyak lagi. Sekitar 200 - 300 orang menyusul datang.
Para pengontrak tinggal dengan peralatan seadanya. Paling hanya tikar dan kasur lipat. Tidak ada perabot - perabot yang mewah. Padahal pendapatan mereka rata - rata per hari bisa dibilang lumayan. Mereka bisa mendapatkan uang paling kecil Rp 200 ribu per hari.
"Seorang pengemis yang ngontrak di saya bilang, paling apes mereka dalam sehari dapatnya Rp 200 ribu per hari. Tapi umumnya mereka dapat uang sekitar 500 ribu-Rp 600 ribu per hari," ujar Hanson.
Omongan Hanson bukan isapan jempol belaka. Sebab beberapa waktu lalu seorang nenek - nenek buta yang menghuni kontrakan miliknya mengaku kehilangan celengan. Nenek itu bilang uang yang ada di dalam celengan jumlahnya Rp 900 ribu hasil mengemis selama 4 hari sebelumnya.
"Bayangin aja dalam 4 hari saja nenek itu bisa menabung Rp 900 ribu. Kalau sebulan bisa dapat berapa duit itu nenek," kata pria asal Medan itu.
Sekalipun dapat duit banyak dari mengemis, namun kehidupan mereka di kontrakan seperti orang tidak punya. Sebab uang hasil mengemis biasanya secara rutin dikirim ke kampung untuk beli sawah dan membangun rumah.
Hanson mengaku pernah melihat rumah - rumah mereka saat menghadiri kondangan warga setempat yang menggelar acara khitanan anaknya di daerah Haur Geulis, Indramayu. Saat datang ikut hajatan di sana ia ditunjuki rumah para pengemis yang ngontrak di Kebon Singkong.
Alangkah terkejutnya Hanson karena ternyata rumah mereka di kampung besar dan rapi. Bahkan saat dia bertamu melihat perabotannya sangat wah. "Kamar mandi saja ada bathtubnya. Malah ada yang punya kolam renang segala," kata Hanson takjub.
Dari situlah Hanson dan sejumlah warga di Kebon Singkong maklum mengapa dari waktu ke waktu, warga dari Indramayu banyak berdatangan. Mereka ingin mengikuti jejak saudara atau tetangganya yang bisa hidup wah di kampung hanya dengan mengemis.
Nuki Senan, juga warga setempat, menjelaskan para pengemis yang tinggal di Kebon Singkong kebanyakan orang - orang tua, cacat dan anak - anak. Sementara bapak - bapak atau ibu - ibunya bertugas mengawasi dan mengantar jemput para pengemis. Mengapa demikian? Sebab bila yang mengemis adalah orang buta atau anak - anak biasanya mendapat uang banyak. Kalau orang dewasa apalagi dalam kondisi normal dapatnya sedikit. "Dapat Rp 30 ribu per hari saja sudah syukur," ujar Nuki.
Jangan heran jika orang - orang dewasa berasal dari desa tempat tinggal pengemis lebih menggantungkan ekonomi kepada anak - anaknya. Mereka disuruh mengemis. Hanya orang dewasa yang cacat yang justru mencari uang sendiri karena kondisi itu akan menerbitkan empati.
Demi mendapat empati, maka banyak orang buta di Kebon Singkong tidak mau diobati. Mobil - mobil pelayanan penyakit Katarak yang sempat datang ke daerah itu selalu sepi peminat. "Mereka ( orang buta ) tidak mau diobati. Sebab kebutaan mereka anggap sebagai aset untuk mengemis. Begitu juga yang cacat," ujar Nuki.
Begitu berharganya orang buta di kalangan pengemis sampai - sampai antar sesama pengemis sering berselisih. Mereka berupaya mendapatkan mobil, ini merupakan istilah untuk orang buta yang mengemis. Terkadang terjadi persaingan harga sewa bagi pengemis buta ini.
"Di sini pengemis buta banyak yang beristri lebih dari satu orang. Mereka ( orang buta ) jadi rebutan karena dianggap sebagai aset untuk dapat uang," terangnya. Sekalipun wilayahnya banyak dihuni para pengemis, namun warga setempat yang bukan pengemis tidak merasa terganggu bila dicap sebagai kampung pengemis. Pasalnya, warga bisa ikut meraup berkah dari para pengemis itu. Paling tidak, kata Nuki, warung atau rumah petakan jadi laku.
Hubungan simbiosis mutualisme antara pengemis dan warga membuat hubungan bertetangga di Kebon Singkong berjalan harmonis. "Mereka tidak banyak berulah karena mereka kebanyakan menghabiskan waktunya di luar. Datang ke kontrakan hanya untuk istirahat saja," pungkasnya.
Jika dalam sehari seorang pengemis bisa meraup omset Rp. 200.000,- maka dalam sebulan dia berpenghasilan Rp. 6.000.000,-. Makanya kebanyakan orang yang sudah menghilangkan kemaluan eh rasa malunya maka mengemis menjadi alternatif yang sangat menjanjikan untuk meraih penghasilan.
Tapi ingat dalam Islam orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda :
" Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima pemberian)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dulunya kawasan padat penduduk ini hanyalah hamparan kebun singkong. Namun sejak tahun 1980-an perlahan - lahan rumah semi permanen dibangun menggantikan tanaman singkong. “Sampai sekarang meski perkebunan singkong sudah tidak ada, kampung ini tetap disebut Kebon Singkong,” kata Yayan, tokoh pemuda di Jakarta Timur.
Seiring perkembangan, daerah Kebon Singkong menjadi kawasan padat dan ramai. Bahkan kawasan ini belakangan dilabeli "danger" sebab banyak residivis yang bersembunyi dan tinggal di kawasan ini.
Selain dikenal sebagai daerah yang rawan kriminalitas, daerah ini juga disebut - sebut sebagai kampung jablay. Dulu banyak perempuan penghibur yang sering mangkal di lokalisasi Prumpung, Jatinegara, mengontrak di daerah ini. Namun seiring meredupnya lokalisasi Prumpung, para pekerja seks komersial ( PSK ) yang tinggal di daerah tersebut perlahan berkurang. Sekarang di Kebon Singkong banyak dihuni para pengemis. Mereka adalah warga Indramayu.
“Setiap bulan puasa ratusan orang dengan menumpang truk datang ke sini mengontrak rumah," ujar Berra Hanson, warga Kebon Singkong. Hanson yang memiliki 20 petak kontrakan mengaku kecipratan untung setiap bulan puasa. Sebab seluruh kontrakannya penuh terisi. Padahal bulan biasa paling hanya terisi separuhnya. Para pengontrak itu adalah pengemis yang rutin beroperasi di wilayah Menteng dan Jatinegara.
Tarif kontrakan milik Hanson bervariasi. Untuk petakan yang ada di bawah yang ukurannya 3 x 6 meter dipatok Rp 350 ribu - Rp 500 ribu per bulan. Untuk petakan yang di atas yang ukuranya lebih kecil harga sewa yang dikenakan Rp 150 ribu - Rp 250 ribu. Harga - harga itu sudah termasuk biaya listrik. "Biar pengemis mereka bayar kontrakan selalu tepat waktu. Dan mereka membayar dengan uang pecahan seribuan hasil mengemis. Sudah diiketin duitnya sama mereka," celetuk Hanson sambil tersenyum.
Di Kebon Singkong, terdapat ratusan kontrakan yang dihuni para pengemis. Kalau bulan puasa tiba, jumlahnya makin banyak lagi. Sekitar 200 - 300 orang menyusul datang.
Para pengontrak tinggal dengan peralatan seadanya. Paling hanya tikar dan kasur lipat. Tidak ada perabot - perabot yang mewah. Padahal pendapatan mereka rata - rata per hari bisa dibilang lumayan. Mereka bisa mendapatkan uang paling kecil Rp 200 ribu per hari.
"Seorang pengemis yang ngontrak di saya bilang, paling apes mereka dalam sehari dapatnya Rp 200 ribu per hari. Tapi umumnya mereka dapat uang sekitar 500 ribu-Rp 600 ribu per hari," ujar Hanson.
Omongan Hanson bukan isapan jempol belaka. Sebab beberapa waktu lalu seorang nenek - nenek buta yang menghuni kontrakan miliknya mengaku kehilangan celengan. Nenek itu bilang uang yang ada di dalam celengan jumlahnya Rp 900 ribu hasil mengemis selama 4 hari sebelumnya.
"Bayangin aja dalam 4 hari saja nenek itu bisa menabung Rp 900 ribu. Kalau sebulan bisa dapat berapa duit itu nenek," kata pria asal Medan itu.
Sekalipun dapat duit banyak dari mengemis, namun kehidupan mereka di kontrakan seperti orang tidak punya. Sebab uang hasil mengemis biasanya secara rutin dikirim ke kampung untuk beli sawah dan membangun rumah.
Hanson mengaku pernah melihat rumah - rumah mereka saat menghadiri kondangan warga setempat yang menggelar acara khitanan anaknya di daerah Haur Geulis, Indramayu. Saat datang ikut hajatan di sana ia ditunjuki rumah para pengemis yang ngontrak di Kebon Singkong.
Alangkah terkejutnya Hanson karena ternyata rumah mereka di kampung besar dan rapi. Bahkan saat dia bertamu melihat perabotannya sangat wah. "Kamar mandi saja ada bathtubnya. Malah ada yang punya kolam renang segala," kata Hanson takjub.
Dari situlah Hanson dan sejumlah warga di Kebon Singkong maklum mengapa dari waktu ke waktu, warga dari Indramayu banyak berdatangan. Mereka ingin mengikuti jejak saudara atau tetangganya yang bisa hidup wah di kampung hanya dengan mengemis.
Nuki Senan, juga warga setempat, menjelaskan para pengemis yang tinggal di Kebon Singkong kebanyakan orang - orang tua, cacat dan anak - anak. Sementara bapak - bapak atau ibu - ibunya bertugas mengawasi dan mengantar jemput para pengemis. Mengapa demikian? Sebab bila yang mengemis adalah orang buta atau anak - anak biasanya mendapat uang banyak. Kalau orang dewasa apalagi dalam kondisi normal dapatnya sedikit. "Dapat Rp 30 ribu per hari saja sudah syukur," ujar Nuki.
Jangan heran jika orang - orang dewasa berasal dari desa tempat tinggal pengemis lebih menggantungkan ekonomi kepada anak - anaknya. Mereka disuruh mengemis. Hanya orang dewasa yang cacat yang justru mencari uang sendiri karena kondisi itu akan menerbitkan empati.
Demi mendapat empati, maka banyak orang buta di Kebon Singkong tidak mau diobati. Mobil - mobil pelayanan penyakit Katarak yang sempat datang ke daerah itu selalu sepi peminat. "Mereka ( orang buta ) tidak mau diobati. Sebab kebutaan mereka anggap sebagai aset untuk mengemis. Begitu juga yang cacat," ujar Nuki.
Begitu berharganya orang buta di kalangan pengemis sampai - sampai antar sesama pengemis sering berselisih. Mereka berupaya mendapatkan mobil, ini merupakan istilah untuk orang buta yang mengemis. Terkadang terjadi persaingan harga sewa bagi pengemis buta ini.
"Di sini pengemis buta banyak yang beristri lebih dari satu orang. Mereka ( orang buta ) jadi rebutan karena dianggap sebagai aset untuk dapat uang," terangnya. Sekalipun wilayahnya banyak dihuni para pengemis, namun warga setempat yang bukan pengemis tidak merasa terganggu bila dicap sebagai kampung pengemis. Pasalnya, warga bisa ikut meraup berkah dari para pengemis itu. Paling tidak, kata Nuki, warung atau rumah petakan jadi laku.
Hubungan simbiosis mutualisme antara pengemis dan warga membuat hubungan bertetangga di Kebon Singkong berjalan harmonis. "Mereka tidak banyak berulah karena mereka kebanyakan menghabiskan waktunya di luar. Datang ke kontrakan hanya untuk istirahat saja," pungkasnya.
Jika dalam sehari seorang pengemis bisa meraup omset Rp. 200.000,- maka dalam sebulan dia berpenghasilan Rp. 6.000.000,-. Makanya kebanyakan orang yang sudah menghilangkan kemaluan eh rasa malunya maka mengemis menjadi alternatif yang sangat menjanjikan untuk meraih penghasilan.
Tapi ingat dalam Islam orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda :
" Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima pemberian)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)








