Showing posts with label sukses. Show all posts


Dalam acara pelepasan/wisuda kelulusan tentu lazim ada pidato sambutan atau perpisahan dari salah satu lulusan tersebut, yang biasanya disampaikan oleh lulusan berprestasi sekolah tersebut.
Dibawah ini adalah sebuah pidato dari lulusan terbaik di salah satu SMA di USA,

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.

Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

Untuk itu, sebaiknya selain belajar dengan sungguh-sungguh agar memperoleh nilai yang baik, anak-anak juga diikutkan dalam kegiatan-kegiatan agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang yang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain.

Memang banyak cara untuk mencapai kesuksesan bisnis, dari metode-metode baru sampai prisnsip bisnis yang diajarkan secara turun-temurun oleh keluarga. Nah, untuk kali ini sedikit menulis tentang  prinsip-prinsip kesuksesan dari orang keturunan (Chinese). Kesuksesan bisnis yang diajarkan lintas generasi, dan memang prinsip ini merupakan pondasi dari segala bisnis.
Kita semua tahu bahwa China sekarang disegani diseluruh dunia, bahkan Amerika pun segan terhadap negara yang satu ini. Bukan karena kekuatan militernya yang tangguh, bukan karena senjata canggih yang mereka miliki, tetapi karena kekuatan ekonominya yang terbukti stabil. Saat Amerika mengalami krisis ekonomi yang parah, China justru mengalami kenaikan yang cukup signifikan di bidang ekonomi. China mampu menduduki peringkat pertama sebagai negara yang tetap tangguh terhadap hempasan badai krisis ekonomi.

Prinsip Bisnis Chinese
Ada banyak cara berbisnis yang diajarkan orang tua masyarakat Chinese terhadap anak-anaknya. Namun dari kesekian banyak cara bisnis itu, ada beberapa yang menarik untuk kita cermati. Berikut beberapa prinsip masyarakat Chinese dalam menjalankan bisnisnya yang patut kita contoh :
  1. Kerja keras. Orang Keturunan dikenal memiliki sifat kerja keras dan tak kenal lelah. Prinsip inilah yang menjadikan etnis China kebanyakan lebih mapan secara finansial dibandingkan etnis lainnya. Mereka rela bekerja mulai pagi sampai larut malam demi meraih kesuksesan bisnisnya. Mereka juga tidak segan-segan untuk turun tangan langsung dalam menjalankan bisnisnya. Coba lihat toko-toko kelontong milik orang China, walaupun mereka memiliki banyak pegawai, akan tetapi mereka tetap terlibat aktif di dalamnya. Ini mereka lakukan agar bisnis yang mereka jalani tetap terkontrol dengan baik. Dengan turun langsung, mereka juga bisa mengawasi agar karyawan mereka  memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pelanggannya. Tak jarang pula kita lihat orang China ikut truck pengangkut barang, mengirimkan sendiri pesanan barang kepada pelanggan. Jam kerja toko-toko orang China pun biasanya lebih lama dari toko-toko lain. Dan ternyata kerja keras inilah salah satu cara mereka dalam meraih kesuksesan bisnisnya.
  2. Hidup hemat. Walau mereka mampu makan ayam goreng, mereka memilih untuk makan sayur asam. Ungkapan inilah yang mungkin tepat diberikan kepada mereka dalam kaitan pengelolaan keuangan. Rata-rata orang etnis China memiliki gaya hidup dibawah kemampuan mereka. Jika mereka mampu membeli mobil sedan mewah, maka mereka akan lebih memilih membeli mobil Pick Up untuk membantu kelancaran bisnisnya. Sangat jauh berbeda dengan gaya hidup kita masyarakat Indonesia kebanyakan. Kalau perlu kita hutang agar bisa beli mobil mewah, yang penting gengsi tidak turun. Seberapapun penghasilan yang orang Tionghoa dapatkan, mereka selalu menyisihkan sebagian untuk ditabung atau diinvestasikan. Terkadang mereka harus makan seadanya yang penting tetap ada uang untuk ditabung.
  3. Putar uang yang ada. Dengan melakukan dua hal diatas, yaitu kerja keras dan hidup hemat, masyarakat etnis China  memiliki peluang yang lebih besar untuk melakukan kegiatan usaha. Mereka mempunyai dana cadangan yang lebih, sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu untuk keperluan yang mendesak. Entah itu untuk keperluan hidup sehari-hari ataupun untuk keperluan bisnis. Tak jarang kita lihat toko orang China yang sepi, seakan mati enggan hidup tak mau. Tapi toko itu tetap berdiri, dana cadangan inilah yang menopang hidup mereka. Dan yang lebih penting lagi, orang tionghoa jarang yang menyimpan uang dalam bentuk tabugan, mereka lebih suka menginvestasikan uang mereka di instrumen investasi jangka pendek sebagai tabungan mereka. Dengan menabung di instrumen investasi jangka pendek mereka bisa mendapatkan dana dalam waktu singkat, selain tentunya juga mendapatkan imbal balik dari hasil investasinya. Prinsip mereka, jangan sampai ada uang yang nganggur, buat semua uang tersebut bekerja untuk kita.
  4. Prinsip harus bisa. Prinsip sukses bisnis mereka selanjutnya adalah harus bisa. Jika orang lain bisa melakukannya maka kita juga pasti bisa. Lihat negara lain menciptakan handphone canggih, maka orang China juga bisa membuatnya sendiri, bahkan dengan harga jual yang lebih rendah dari produk aslinya. Mereka tidak pernah puas mencapai kesuksesan tertentu, mereka selalu melihat keatas mereka, sehingga memberikan semangat untuk bekerja lebih keras lagi.
  5. Prinsip pinjam uang kerabat. Tak jarang orang China yang enggan menggunakan jasa perbankan. Selain mereka akan dibebankan bunga yang besar, mereka juga lebih suka berjalan dengan kemampuan sendiri. Prinsip mereka, pinjam kepada bank harus digunakan untuk sesuatu yang pasti, sesuatu yang terbukti memberikan keuntungan bagi mereka. Untuk usaha/bisnis yang baru dirintis, yang mereka belum tahu resiko yang akan dihadapi, mereka lebih memilih berhutang kepada kerabat mereka sendiri. Perlu diketahui bahwa rasa solidaritas sesama etnis China sangatlah besar, lebih-lebih dalam masalah bisnis. Mereka yang lebih dulu sukses selalu membantu saudara mereka untuk bisa meraih kesuksesan juga.
  6. Prinsip beli dalam jumlah partai. Keberanian mereka dalam mengambil resiko patut kita acungi jempol. Walaupun keberanian mereka tetap diimbangi dengan kepiawaian dalam memanage resiko. Orang China lebih suka mengambil barang secara partai, kemudian menjualnya kembali kepada pedagang kecil ataupun pengecer. Mereka tidak mengambil margin yang besar, akan tetapi lebih bermain pada kuantitas atau volume penjualan yang besar. Untung sedikit, tetapi penjualan yang banyak.
  7. Prinsip serba ada. One stop shopping, sekali pelanggan datang maka pelanggan itu akan mendapatkan apapun yang mereka cari. Lihat toko-toko orang China, berbagai macam barang berjejal-jejal mengisi seluruh ruang yang ada. Kalau perlu sampai di teras malah di tempat parkir. Yup, mereka tidak pernah tanggung-tanggung dalam membuka bisnis, harus super lengkap, terlihat banyak barang yang di display. Hal inilah yang justru malah menarik konsumen untuk datang ke tempat mereka.
Demikian beberapa prinsip dan cara bisnis masyarakat etnis China yang mungkin bisa kita jadikan pelajaran demi meraih kesuksesan. Dari kesemua prinsip yang ada diatas, tiga prinsip yang pertama merupakan pilar utama dalam membangun sebuah bisnis yang sukses.


Setiap orang pasti ingin sukses dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya. Namun percayalah kalau sifat dan kepribadian Anda sendiri akan memengaruhi kesuksesan dalam bekerja. Dalam hubungan kedua hal ini, ada tujuh kepribadian orang yang dinilai tidak akan pernah sukses dalam pekerjaannya.

1. Gampang Tertipu
Percaya pada perusahaan itu boleh-boleh saja, tapi hati-hati jangan terlalu mudah percaya pada semua hal. Ketika pimpinan kantor mengatakan sesuatu yang mungkin Anda sendiri tahu bahwa alasan ini sangat dibuat-buat maka ada baiknya untuk tidak diam saja dan menerimanya. Misalnya, "Anda tidak mendapatkan promosi di tahun ini, tapi pasti di tahun depan."

Anda boleh saja kok untuk sedikit bernegosiasi dengan hal ini. Ibaratnya, sama seperti saat Anda membeli mobil tanpa menawar. Jika Anda berusaha untuk keluar dari dealer maka si penjual pasti memberi diskon untuk Anda. Dalam pekerjaan hal ini juga berlaku.

Dengan berbagai ucapan ini, perusahaan sebenarnya ingin bernegosiasi dengan Anda. Tujuannya adalah mereka ingin mendorong Anda untuk bekerja lebih baik dan membuat Anda bertahan di perusahaan tersebut, tapi di sisi lain mereka ingin menghemat uang perusahaan, menahan kenaikan gaji, promosi jabatan. Kalau sudah begini, jangan hanya menerimanya saja, Anda harus memperjuangkan hak Anda.


2. Kolot
Para pemikir kolot yang berkelompok adalah masalah psikologis yang merajalela di tempat kerja. Semakin lama Anda bekerja di sebuah perusahaan maka populasinya akan semakin besar. Akhirnya terbentuk kumpulan karyawan senior yang kurang mawas dengan perkembangan di luar. Orang-orang ini adalah alasan mengapa banyak hal di kantor tidak diperbaharui, seperti misalnya; teknologi kantor, kebijakan yang sudah ketinggalan jaman, atau hal-hal lainnya di kantor yang tidak diperbaharui. Dalam tim kerja kolot ini Anda akan selalu mendengar kalimat "Kamu tidak bisa melakukan itu, karena kami tidak terbiasa melakukannya dan ini tidak seperti yang biasanya selalu dilakukan di kantor!"

Sangat mudah melihat tipe orang seperti ini, terutama jika Anda adalah orang baru di kantor. Grupthink ini biasanya duduk bergerombol bersama-sama dan ngobrol serta mengungkapkan hal-hal aneh, dan selalu mengeluh setiap ada tugas atau hal baru yang diterapkan di kantor. Kalau menemukan hal seperti ini, sebaiknya Anda hindari dan jangan bergabung dengan kelompok ini. Kelompok ini akan mengganggu karier dan membuat Anda justru jadi bodoh.

 
3. Penakut
Seperti biasa, orang akan melakukan hal konyol ketika mereka takut. Orang-orang seperti inilah yang akan menyebabkan masalah serius di tempat kerja. Misalnya ketika mereka takut dipecat, maka ketika kantor menemukan sebuah kesalahan dalam pekerjaan tim, jangan kaget kalau ia akan menumpukan semua kesalahan pada Anda. Orang seperti ini akan selalu mencari aman untuk posisinya sendiri sekalipun mereka harus mengorbankan Anda.
 
4. Apatis
Sesekali mengambil cuti kerja tentu tak masalah. Namun tak dimungkiri kalau ada saja teman kerja yang sirik dengan masa cuti Anda ini. Apalagi kalau dia tahu-tahu selalu menghubungi Anda untuk masalah pekerjaan atau justru malah menyindir Anda karena bersenang-senang, sementara mereka harus bekerja keras saat Anda cuti. Menyebalkan pasti!

Tak cuma itu saja, orang apatis juga sering menunjukkan sikap egois. Anda mungkin pernah menjadi korban si apatis saat bekerja. Salah satunya mungkin dengan kalimat "Kamu lembur yah, tolong kerjakan yang ini soalnya saya harus pulang cepat anak-anak sudah menunggu," Apa maksudnya sih? setiap orang kan juga punya urusan, tapi nggak begini juga caranya. Tak ada salahnya sesekali mengasihani orang-orang seperti ini, tapi usahakan agar Anda tak jadi rekan kerja yang apatis juga.

 
5. Negatif Thingking
 Setiap kali Anda berhasil dalam pekerjaan atau mendapatkan pujian dari si bos, pasti ada saja rekan kerja yang sirik dengan hal ini.

Seorang pecundang akan berpikir bahwa Anda bisa mendapatkannya dengan cara yang tidak baik, atau karena adanya dukungan dari seseorang yang punya posisi kuat, atau buruknya, ia berpikir ini hanya keberuntungan semata.
Anda memang tak bisa menghentikan atau mengubah pikiran orang-orang seperti ini. Satu-satunya melawan si pecundang adalah dengan memberinya berbagai kejutan dengan keberhasilan Anda yang terbaik setiap waktu. Ini akan menghilangkan si pecundang, satu per satu sekaligus meningkatkan nilai di mata bos dan meningkatkan penghargaan pada diri sendiri.


6. Tukang Gosip
 Kalau bertemu tipe teman kantor seperti ini pasti ujung-ujungnya bergosip dan ngomongin orang. Ada gosip ringan dan ada juga gosip yang sudah menjurus ke arah bahaya. Jika Anda berusaha untuk masuk ke dalam kelompok yang seperti ini, maka dijamin karier pasti kacau.

7. Selalu Minta Maaf
 Salahkah minta maaf? Tentu tidak salah selama Anda memang benar-benar sudah melakukan sesuatu yang salah. Namun ketika tak melakukan kesalahan apa gunanya minta maaf ?

Mungkin Anda sering mendengar atau justru sering melakukannya permintaan maaf tanpa kesalahan ini. Misalnya, "Maaf ya kalau presentasi saya kurang bagus," "Maaf ya kalau pekerjaan saya kurang bagus," "Maaf ya kalau website saya jelek," dan lain-lainnya.

Kata-kata maaf di kalimat ini tidak salah karena Anda tak bermaksud untuk sombong (sekalipun pekerjaan Anda sangat bagus). Sebaliknya, justru kalimat ini menunjukkan kepercayaan diri yang sangat rendah. Yang harus dilakukan adalah jadi lebih percaya diri namun tidak sombong.



Kebahagiaan adalah tujuan hidup setiap manusia, karena meskipun kita sukses, kaya raya, namun semua akan terasa hampa jika kita sendiri tidak bahagia. Jadi sukses tak akan berarti kalau kita tidak bahagia. Bahagia di keluarga, bahagia di pekerjaan, bahagia di karier, adalah kepuasan yang tak akan bisa dibandingkan dengan perolehan materi atau sekadar “nama”.

Tapi sayang, banyak orang yang ngaku susah untuk bahagia. Masih banyak yang berpikir, bahagia harus kaya, harus punya “nama” , alias harus dikenal orang, dikenang orang, atau dihormati karena pencapaian tertentu. Padahal, bahagia itu menurut ane soal keputusan. Like what Aristotle said, happiness depends upon ourselves.

Berikut saya beberkan beberapa langkah mudah agar merasa bahagia  :
1. Berbagi
 Menghabiskan uang bersama orang lain akan memberi dampak lebih membahagiakan dibanding menghabiskannya sendirian. Penelitian ini ditulis di ScienceMag, dan merupakan hasil penelitian Elizabeth Dunn, Lara Atkin, dan Michael Norton terhadap 632 responden di Amerika. Bagi saya, ditraktir dan mentraktir itu emang menyenangkan. Apalagi, kalo udah ngumpul bareng teman. Itu barangkali esensi yang membuat kita bisa lebih happy.

2. Ikuti Nasihat Orang Tua
Dengar dan jalankan nasihat orang yang lebih tua ternyata banyak benarnya. Dan, itu memberi dampak kebahagiaan bagi seseorang. Hal tersebut diungkap oleh seorang profesor dari Harvard, Daniel Gilbert.

3. Cari lingkungan yang sehat

Kebahagiaan itu menular. Begitu juga dengan kesehatan. Jadi, carilah lingkungan yang mendukung kamu untuk selalu bahagia. Maka, dengan gampang kamu akan tertular untuk terus merasa bahagia. Ini penelitian Nicholas Christakis dari Harvard dan James Fowler dari UC San Diego.

4. Jangan Menyerah
Bahagia jangka panjang bisa diperoleh bagi mereka yang mau “bertahan” untuk mendapat sesuatu. Istilahnya, no pain, no gain. Hal ini diungkap oleh Ryan Howell, peneliti dari San Francisco State University, yang dimuat di jurnal Happiness Studies.

5. Nostalgia
Bernostalgia membuat seseorang lebih mudah bahagia. Ini karena nostalgia membuat seseorang merasa dirinya tidak sendirian. Hal itu diungkap di jurnal Psychological Science. Itulah mengapa, kalau kita reunian dengan teman lama, biasanya akan merasa lebih bahagia. Kalo ini jelas. Ketemu teman lama rasanya menyenangkan.

6.  Olahraga rutin
Olahraga 20 menit sehari, 3 kali seminggu, dalam enam bulan, dapat meningkatkan kebahagiaan seseorang sekitar 10-20%. Hal ini diungkap dalam sebuah artikel di HealthGuide UK. Jujur, saya termasuk cowok yang gak terlalu suka olahraga. Tapi, kalo ngeliat hasil penelitian ini, mungkin ane akan berpikir ulang untuk bisa menyisihkan sedikit waktu buat gerakin tubuh biar keringetan. Olahraga saya selama ini hanya olahraga jari. Paling banter jalan kaki menuju kantor, yang mana kantor saya itu rumah saya sendiri.

7. Peluklah Orang yang kamu kasihi
Menurut sebuah penelitian Harvard University pada orang-orang berusia 40-an, mereka yang lebih bahagia ternyata sejak kecil mendapat lebih banyak pelukan dan rangkulan. Jadi, yang ingin lebih bahagia, cobalah sering-sering berpelukan dengan orang yang kamu kasihi. This is why I love my family so much.

8. Jadi Diri Sendiri
Berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Hal ini merupakan salah satu cara mudah untuk membuat agan bahagia, seperti yang diungkap oleh Profesor Sonja Lyubomirsky, seorang peneliti dari University of California. Emang sih, kalau ngeliat ke atas, nggak bakal ada puasnya. Jadi, salah satu kunci biar selalu happy adalah mensyukuri setiap pencapaian yang kita dapat.

Bersiaplah menjadi sukses karena anda telah menjadi orang yang berbahagia sekarang!

Pengalaman adalah guru yang paling brutal dan kejam.
Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

Kuliah karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.

“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.

Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia. Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang ”Raja” jalanan.

5 Resep keberhasilan Honda:
1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.


Sukses Tanpa Titel

Saturday, July 27, 2013

Ada info dari email kawan. tentang kegelisahan menghadapi kenyataan hidup.mudah2an ini bisa menginspirasi kegundahan yang terjadi. Serta melanjutkan beberapa pertanyaan teman-teman yang menanyakan artikel yang menyesatkan di Sekolah Tidak Penting, maka inilah contoh orang - orang sukses di Indonesia yang tidak memiliki gelar sarjana. Mereka mengenyam pendidikan hanya sampai jenjang sekolah menengah. Riwayat pendidikan mereka serupa :

1. terkadang gagal meneruskan kuliah karena miskin
2. memiliki jiwa pemberontak
3. salah jurusan saat kuliah.

Keberhasilan yang mereka raih juga memiliki ciri - ciri serupa :

1. pantang menyerah kepada nasib
2. menumbuhkan jiwa kreatif
3. terus menerus berusaha menjadi manusia pembelajar

Mereka adalah street-boys, orang -orang yang belajar dari kehidupan nyata.

Bagaimana dengan anda? Jika anda lebih beruntung dengan memiliki gelar sarjana berderet - deret , sudahkah anda belajar dari kehidupan nyata? Sudahkah anda berprestasi seperti Ibu Tri Mumpuni? atau bahkan melebihi beliau?

inilah sebagian dari figur inspiratif itu :

1. Andy F.Noya

PimRed Metro TV ini belum lulus sarjana... Satu hal yang menarik, Andy sebenarnya adalah orang teknik. Sejak lulus SD Sang Timur di Malang, Jawa Timur, pria kelahiran Surabaya ini sekolah di Sekolah Teknik Jayapura lalu melanjutkan ke STM Jayapura. "Tetapi sejak kecil saya merasa jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Kemampuan menggambar kartun dan karikatur semakin membuat saya memilih dunia tulis menulis sebagai jalan hidup saya," tutur Andy.

2. Adam Malik

Mantan Wakil Presiden Indonesia yang dikabarkan merupakan Agen CIA ini ternyata sama sekali tidak pernah sekolah.

3. M. H. Ainun Najib

Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah, Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah 'diusir' dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan 'demo' melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Selebihnya Beliau jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi).

4. Abdullah Gymnastiar

kiayi yang tahun kemaren santer dengan kasus poligaminya, ternyata sukses menjadi kyai dan wirausahawan (pengusah besar) tanpa ijazah. walaupun sudah lulus, tapi dikabarkan sampai saat ini belum mengambil ijazahnya.

5. Ajip Rosidi

dengan tak mau mengikuti ujian akhir SMA nya. Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah. "Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah". Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.

Berikut Sejarah Pendidikan Beliau :
Sekolah Rakyat 6 tahun di Jatiwangi (1950)
Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953)
Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956, tidak tamat)

6. Bob Sadino

Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia dan tidak melanjutkan kuliah. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

7. Andrie Wongso

Anak ke-2 dari 3 bersaudara ini terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang. Di usia 11 tahun (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Maka SDTT, Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini. Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar.

8. Purdi E Chandra

Sosok Purdi E. Chandra kini dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) Primagama yang didirikannya bahkan masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI) lantaran memiliki 181 cabang di 96 kota besar di Indonesia dengan 100 ribu siswa tiap tahun.

Bukan suatu kebetulan jika pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah. Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika baru membangun usahanya.

Kuliah di 4 jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan. Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita -cita dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis.

9. Hendy Setiono

Hendy Setiono (kebab Baba Rafi) mengawali usaha tahun 2003 di Surabaya. Modalnya hanya Rp 10 juta atau sebuah gerobak burger. Kini bisnisnya berkembang pesat dengan menu makanan utama kebab serta santapan ala koboi (burger serta hotdog). Jumlah cabangnya setiap tahun terus bertambah. Terakhir, terdapat 140 outlet tersebar di 25 kota, antara lain Batam, Bali, Bandung, Banjarmasin, Malang, Gresik, Jember, Kediri, Lampung, Padang, Malang, Makasar, Medan, Pasuruan, Pekan Baru, Karawang, Surabaya, Sukabumi, Semarang, Sidoarjo, Tasikmalaya, Jogjakarta, dan Jakarta

10. Buya Hamka

HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara.

Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

11.Basrizal Koto

Basko yang panjang akal dan visioner mengawali usahanya dengan berjualan pete. Meski tidak punya uang tetapi dengan modal kepercayaan, pete yang belum dibayar dibawanya ke restoran Padang dan dijual dengan selisih harga yang lebih tinggi. Perjalanan hidupnya penuh warna dan keinginan untuk terus mengubah nasib mengantarnya menjajal berbagai macam profesi mulai dari kernet, sopir, pemborong, tukang jahit hingga akhirnya menjadi diler mobil.

Kemahirannya berkomunikasi, membangun jaringan, menepati janji, dan menjaga kepercayaan akhirnya membawanya sukses menaklukan kemiskinan, membangun kerajaan bisnis, dan menciptakan lapangan kerja. Jumlah perusahaan yang dikelolanya kini mencapai 15 perusahaan

12. Dahlan Iskan

Menteri BUMN ,pada Hari Senin 25 Januari 2010, bertemu dengan Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat untuk mengikuti rapat dengar pendapat mengenai industri listrik di Indonesia.

Dahlan pun mengawali pertemuan itu dengan perkenalan. Mulai dari nama, jabatan, hingga pendidikan. "Mohon maaf, karena orang tua saya hanya petani, maka hanya sanggup menyekolahkan saya sampai SMU saja," kata Dahlan,

Ternyata, Dahlan hanya lulusan Sekolah Menengah. Kita susah sekali mencari latar belakang pendidikannya. Penelusuran di mesin pencari juga belum menemukan pendidikannya. Bahkan dari situs pribadinya, dahlaniskan.info dan dahlaniskan.net juga tidak mencantumkan pendidikan Dahlan.

Di situ hanya ditulis, Dahlan Iskan adalah raja media yang memiliki jaringan media se antero Indonesia. Usahanya itu di bawah naungan Jawa Pos Group. Bahkan belakangan, dia merambah ke bisnis percetakan, pembangkit listrik, dan batu bara.

13. Yoris Sebastian

Anak muda yang tak pernah kuliah formal ini, justru menjadi ikon ekonomi kreatif di Indonesia. Mengetahui sosok Yoris Sebastian bagi saya memang baru-baru saja. Salah satu anak muda Indonesia yang kreatif dan berprestasi. Pantaslah kalau Yoris Sebastian bisa dijadikan inspirasi dan motivasi, mengingat pendidikannya yang hanya tamatan SMA, tapi ide-idenya yang cemerlang, bagi saya itu adalah inovasi. Menjadi General Manager di Hard Rock Café Asia Pacific pada umur 26 th, pemrakarsa acara 'I Like Monday' di HardRock Café Jakarta, salah satu acara yang diingat banyak orang. Dan bejibun prestasi lain yang mengekornya. Saat ini Yoris Sebastian memiliki 'Oh My Goodness (OMG) Creative Consulting', perusahaan yang menciptakan ide-ide unik dan kreatif untuk marketing perusahaan atau produk.

Kawan2 ku yang baik...

Semua figur di atas membuktikan bahwa pendidikan formal, bukanlah satu-satunya jalan hidup dan pilihan untuk kesuksesan di masa depan. Pendidikan adalah invenstasi kemanusiaan yang dapat didapat dimanapun manusia berada. tidak dibatasi oleh ruangan kelas, 4 dinding dan suasana yang menjemukkan. bagi kawan-kawan yang kini tengah menempuh pendidikan formal, atau bahkan telah mendapatkan titel atau gelar dalam pendidikan formal, idealnya harus lebih baik eksistensinya dari figur-figur di atas.

Tuhan telah memberikan jalan alternatifnya buat kita

Kini, pilihannya ada pada Anda....

To be or not to be...

HITSTAT

Total Pageviews

Popular Post

- Copyright © 2013 Catatan Harian Awanul Hamzah| Powered by Blogger