Showing posts with label sukses. Show all posts


Dalam acara pelepasan/wisuda kelulusan tentu lazim ada pidato sambutan atau perpisahan dari salah satu lulusan tersebut, yang biasanya disampaikan oleh lulusan berprestasi sekolah tersebut.
Dibawah ini adalah sebuah pidato dari lulusan terbaik di salah satu SMA di USA,

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.

Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

Untuk itu, sebaiknya selain belajar dengan sungguh-sungguh agar memperoleh nilai yang baik, anak-anak juga diikutkan dalam kegiatan-kegiatan agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang yang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain.

Memang banyak cara untuk mencapai kesuksesan bisnis, dari metode-metode baru sampai prisnsip bisnis yang diajarkan secara turun-temurun oleh keluarga. Nah, untuk kali ini sedikit menulis tentang  prinsip-prinsip kesuksesan dari orang keturunan (Chinese). Kesuksesan bisnis yang diajarkan lintas generasi, dan memang prinsip ini merupakan pondasi dari segala bisnis.
Kita semua tahu bahwa China sekarang disegani diseluruh dunia, bahkan Amerika pun segan terhadap negara yang satu ini. Bukan karena kekuatan militernya yang tangguh, bukan karena senjata canggih yang mereka miliki, tetapi karena kekuatan ekonominya yang terbukti stabil. Saat Amerika mengalami krisis ekonomi yang parah, China justru mengalami kenaikan yang cukup signifikan di bidang ekonomi. China mampu menduduki peringkat pertama sebagai negara yang tetap tangguh terhadap hempasan badai krisis ekonomi.

Prinsip Bisnis Chinese
Ada banyak cara berbisnis yang diajarkan orang tua masyarakat Chinese terhadap anak-anaknya. Namun dari kesekian banyak cara bisnis itu, ada beberapa yang menarik untuk kita cermati. Berikut beberapa prinsip masyarakat Chinese dalam menjalankan bisnisnya yang patut kita contoh :
  1. Kerja keras. Orang Keturunan dikenal memiliki sifat kerja keras dan tak kenal lelah. Prinsip inilah yang menjadikan etnis China kebanyakan lebih mapan secara finansial dibandingkan etnis lainnya. Mereka rela bekerja mulai pagi sampai larut malam demi meraih kesuksesan bisnisnya. Mereka juga tidak segan-segan untuk turun tangan langsung dalam menjalankan bisnisnya. Coba lihat toko-toko kelontong milik orang China, walaupun mereka memiliki banyak pegawai, akan tetapi mereka tetap terlibat aktif di dalamnya. Ini mereka lakukan agar bisnis yang mereka jalani tetap terkontrol dengan baik. Dengan turun langsung, mereka juga bisa mengawasi agar karyawan mereka  memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pelanggannya. Tak jarang pula kita lihat orang China ikut truck pengangkut barang, mengirimkan sendiri pesanan barang kepada pelanggan. Jam kerja toko-toko orang China pun biasanya lebih lama dari toko-toko lain. Dan ternyata kerja keras inilah salah satu cara mereka dalam meraih kesuksesan bisnisnya.
  2. Hidup hemat. Walau mereka mampu makan ayam goreng, mereka memilih untuk makan sayur asam. Ungkapan inilah yang mungkin tepat diberikan kepada mereka dalam kaitan pengelolaan keuangan. Rata-rata orang etnis China memiliki gaya hidup dibawah kemampuan mereka. Jika mereka mampu membeli mobil sedan mewah, maka mereka akan lebih memilih membeli mobil Pick Up untuk membantu kelancaran bisnisnya. Sangat jauh berbeda dengan gaya hidup kita masyarakat Indonesia kebanyakan. Kalau perlu kita hutang agar bisa beli mobil mewah, yang penting gengsi tidak turun. Seberapapun penghasilan yang orang Tionghoa dapatkan, mereka selalu menyisihkan sebagian untuk ditabung atau diinvestasikan. Terkadang mereka harus makan seadanya yang penting tetap ada uang untuk ditabung.
  3. Putar uang yang ada. Dengan melakukan dua hal diatas, yaitu kerja keras dan hidup hemat, masyarakat etnis China  memiliki peluang yang lebih besar untuk melakukan kegiatan usaha. Mereka mempunyai dana cadangan yang lebih, sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu untuk keperluan yang mendesak. Entah itu untuk keperluan hidup sehari-hari ataupun untuk keperluan bisnis. Tak jarang kita lihat toko orang China yang sepi, seakan mati enggan hidup tak mau. Tapi toko itu tetap berdiri, dana cadangan inilah yang menopang hidup mereka. Dan yang lebih penting lagi, orang tionghoa jarang yang menyimpan uang dalam bentuk tabugan, mereka lebih suka menginvestasikan uang mereka di instrumen investasi jangka pendek sebagai tabungan mereka. Dengan menabung di instrumen investasi jangka pendek mereka bisa mendapatkan dana dalam waktu singkat, selain tentunya juga mendapatkan imbal balik dari hasil investasinya. Prinsip mereka, jangan sampai ada uang yang nganggur, buat semua uang tersebut bekerja untuk kita.
  4. Prinsip harus bisa. Prinsip sukses bisnis mereka selanjutnya adalah harus bisa. Jika orang lain bisa melakukannya maka kita juga pasti bisa. Lihat negara lain menciptakan handphone canggih, maka orang China juga bisa membuatnya sendiri, bahkan dengan harga jual yang lebih rendah dari produk aslinya. Mereka tidak pernah puas mencapai kesuksesan tertentu, mereka selalu melihat keatas mereka, sehingga memberikan semangat untuk bekerja lebih keras lagi.
  5. Prinsip pinjam uang kerabat. Tak jarang orang China yang enggan menggunakan jasa perbankan. Selain mereka akan dibebankan bunga yang besar, mereka juga lebih suka berjalan dengan kemampuan sendiri. Prinsip mereka, pinjam kepada bank harus digunakan untuk sesuatu yang pasti, sesuatu yang terbukti memberikan keuntungan bagi mereka. Untuk usaha/bisnis yang baru dirintis, yang mereka belum tahu resiko yang akan dihadapi, mereka lebih memilih berhutang kepada kerabat mereka sendiri. Perlu diketahui bahwa rasa solidaritas sesama etnis China sangatlah besar, lebih-lebih dalam masalah bisnis. Mereka yang lebih dulu sukses selalu membantu saudara mereka untuk bisa meraih kesuksesan juga.
  6. Prinsip beli dalam jumlah partai. Keberanian mereka dalam mengambil resiko patut kita acungi jempol. Walaupun keberanian mereka tetap diimbangi dengan kepiawaian dalam memanage resiko. Orang China lebih suka mengambil barang secara partai, kemudian menjualnya kembali kepada pedagang kecil ataupun pengecer. Mereka tidak mengambil margin yang besar, akan tetapi lebih bermain pada kuantitas atau volume penjualan yang besar. Untung sedikit, tetapi penjualan yang banyak.
  7. Prinsip serba ada. One stop shopping, sekali pelanggan datang maka pelanggan itu akan mendapatkan apapun yang mereka cari. Lihat toko-toko orang China, berbagai macam barang berjejal-jejal mengisi seluruh ruang yang ada. Kalau perlu sampai di teras malah di tempat parkir. Yup, mereka tidak pernah tanggung-tanggung dalam membuka bisnis, harus super lengkap, terlihat banyak barang yang di display. Hal inilah yang justru malah menarik konsumen untuk datang ke tempat mereka.
Demikian beberapa prinsip dan cara bisnis masyarakat etnis China yang mungkin bisa kita jadikan pelajaran demi meraih kesuksesan. Dari kesemua prinsip yang ada diatas, tiga prinsip yang pertama merupakan pilar utama dalam membangun sebuah bisnis yang sukses.


Setiap orang pasti ingin sukses dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya. Namun percayalah kalau sifat dan kepribadian Anda sendiri akan memengaruhi kesuksesan dalam bekerja. Dalam hubungan kedua hal ini, ada tujuh kepribadian orang yang dinilai tidak akan pernah sukses dalam pekerjaannya.

1. Gampang Tertipu
Percaya pada perusahaan itu boleh-boleh saja, tapi hati-hati jangan terlalu mudah percaya pada semua hal. Ketika pimpinan kantor mengatakan sesuatu yang mungkin Anda sendiri tahu bahwa alasan ini sangat dibuat-buat maka ada baiknya untuk tidak diam saja dan menerimanya. Misalnya, "Anda tidak mendapatkan promosi di tahun ini, tapi pasti di tahun depan."

Anda boleh saja kok untuk sedikit bernegosiasi dengan hal ini. Ibaratnya, sama seperti saat Anda membeli mobil tanpa menawar. Jika Anda berusaha untuk keluar dari dealer maka si penjual pasti memberi diskon untuk Anda. Dalam pekerjaan hal ini juga berlaku.

Dengan berbagai ucapan ini, perusahaan sebenarnya ingin bernegosiasi dengan Anda. Tujuannya adalah mereka ingin mendorong Anda untuk bekerja lebih baik dan membuat Anda bertahan di perusahaan tersebut, tapi di sisi lain mereka ingin menghemat uang perusahaan, menahan kenaikan gaji, promosi jabatan. Kalau sudah begini, jangan hanya menerimanya saja, Anda harus memperjuangkan hak Anda.


2. Kolot
Para pemikir kolot yang berkelompok adalah masalah psikologis yang merajalela di tempat kerja. Semakin lama Anda bekerja di sebuah perusahaan maka populasinya akan semakin besar. Akhirnya terbentuk kumpulan karyawan senior yang kurang mawas dengan perkembangan di luar. Orang-orang ini adalah alasan mengapa banyak hal di kantor tidak diperbaharui, seperti misalnya; teknologi kantor, kebijakan yang sudah ketinggalan jaman, atau hal-hal lainnya di kantor yang tidak diperbaharui. Dalam tim kerja kolot ini Anda akan selalu mendengar kalimat "Kamu tidak bisa melakukan itu, karena kami tidak terbiasa melakukannya dan ini tidak seperti yang biasanya selalu dilakukan di kantor!"

Sangat mudah melihat tipe orang seperti ini, terutama jika Anda adalah orang baru di kantor. Grupthink ini biasanya duduk bergerombol bersama-sama dan ngobrol serta mengungkapkan hal-hal aneh, dan selalu mengeluh setiap ada tugas atau hal baru yang diterapkan di kantor. Kalau menemukan hal seperti ini, sebaiknya Anda hindari dan jangan bergabung dengan kelompok ini. Kelompok ini akan mengganggu karier dan membuat Anda justru jadi bodoh.

 
3. Penakut
Seperti biasa, orang akan melakukan hal konyol ketika mereka takut. Orang-orang seperti inilah yang akan menyebabkan masalah serius di tempat kerja. Misalnya ketika mereka takut dipecat, maka ketika kantor menemukan sebuah kesalahan dalam pekerjaan tim, jangan kaget kalau ia akan menumpukan semua kesalahan pada Anda. Orang seperti ini akan selalu mencari aman untuk posisinya sendiri sekalipun mereka harus mengorbankan Anda.
 
4. Apatis
Sesekali mengambil cuti kerja tentu tak masalah. Namun tak dimungkiri kalau ada saja teman kerja yang sirik dengan masa cuti Anda ini. Apalagi kalau dia tahu-tahu selalu menghubungi Anda untuk masalah pekerjaan atau justru malah menyindir Anda karena bersenang-senang, sementara mereka harus bekerja keras saat Anda cuti. Menyebalkan pasti!

Tak cuma itu saja, orang apatis juga sering menunjukkan sikap egois. Anda mungkin pernah menjadi korban si apatis saat bekerja. Salah satunya mungkin dengan kalimat "Kamu lembur yah, tolong kerjakan yang ini soalnya saya harus pulang cepat anak-anak sudah menunggu," Apa maksudnya sih? setiap orang kan juga punya urusan, tapi nggak begini juga caranya. Tak ada salahnya sesekali mengasihani orang-orang seperti ini, tapi usahakan agar Anda tak jadi rekan kerja yang apatis juga.

 
5. Negatif Thingking
 Setiap kali Anda berhasil dalam pekerjaan atau mendapatkan pujian dari si bos, pasti ada saja rekan kerja yang sirik dengan hal ini.

Seorang pecundang akan berpikir bahwa Anda bisa mendapatkannya dengan cara yang tidak baik, atau karena adanya dukungan dari seseorang yang punya posisi kuat, atau buruknya, ia berpikir ini hanya keberuntungan semata.
Anda memang tak bisa menghentikan atau mengubah pikiran orang-orang seperti ini. Satu-satunya melawan si pecundang adalah dengan memberinya berbagai kejutan dengan keberhasilan Anda yang terbaik setiap waktu. Ini akan menghilangkan si pecundang, satu per satu sekaligus meningkatkan nilai di mata bos dan meningkatkan penghargaan pada diri sendiri.


6. Tukang Gosip
 Kalau bertemu tipe teman kantor seperti ini pasti ujung-ujungnya bergosip dan ngomongin orang. Ada gosip ringan dan ada juga gosip yang sudah menjurus ke arah bahaya. Jika Anda berusaha untuk masuk ke dalam kelompok yang seperti ini, maka dijamin karier pasti kacau.

7. Selalu Minta Maaf
 Salahkah minta maaf? Tentu tidak salah selama Anda memang benar-benar sudah melakukan sesuatu yang salah. Namun ketika tak melakukan kesalahan apa gunanya minta maaf ?

Mungkin Anda sering mendengar atau justru sering melakukannya permintaan maaf tanpa kesalahan ini. Misalnya, "Maaf ya kalau presentasi saya kurang bagus," "Maaf ya kalau pekerjaan saya kurang bagus," "Maaf ya kalau website saya jelek," dan lain-lainnya.

Kata-kata maaf di kalimat ini tidak salah karena Anda tak bermaksud untuk sombong (sekalipun pekerjaan Anda sangat bagus). Sebaliknya, justru kalimat ini menunjukkan kepercayaan diri yang sangat rendah. Yang harus dilakukan adalah jadi lebih percaya diri namun tidak sombong.



HITSTAT

Total Pageviews

Popular Post

- Copyright © 2013 Catatan Harian Awanul Hamzah| Powered by Blogger