Showing posts with label brebes. Show all posts
Bawang merah merupakan hasil bumi yang menjadi kebanggaan warga Kabupaten Brebes. Tanaman jenis umbi-umbian ini dibutuhkan oleh ibu-ibu rumah tangga untuk keperluan masak memasak.
Berbisnis bawang merah sangat menjanjikan, karena margin keuntungan yang lumayan menggiurkan.
Hari ini harga bawang merah ukuran besar atau super di Brebes Rp. 11.000/kg, sementara di pasar induk tanah tinggi berkisar antara 14.000 - 16.000/kg. Dan di tingkat eceran Rp. 20.000/kg.
Untuk pemain pemula bisa dimulai dari 1 000kg atau 1 ton, hal ini untuk menghemat biaya pengiriman dari Brebes ke Tangerang, biaya sewa L300 dari brebes ke Tangerang sekitar 1.300.000 - 1.500.000.
Jadi modal yang diperlukan untuk pemula sekitar 12.500.000 untuk bawang seberat 1 ton. Jika diecerkan langsung ke ibu-ibu dengan harga Rp. 16.000/kg dan nilai penyusutan barang sebesar 7% maka nilai yang dihasilkan sekitar 14.880.000. Sehingga selisih atau laba yang bisa diraih sebesar 2.380.000.
Namun itu belum bersih karena masih kena potong uang makan selama berjualan, plastik buat bungkusnya, dan bensin. dengan asumsi 100kg perhari berarti harus beroperasi selama 10 hari untuk menjual bawang sebanyak 1 Ton. Jika sehari menghabiskan 150.000 maka selama berjualan menghabiskan dana sekitar 1.500.000, sehingga laba bersih 880.000 atau 88.000 perhari.
Harga jual 16.000/kg ibu-ibu bakal berebut membeli karena harga pasaran eceran sebesar Rp. 20.000/kg. dan harga Rp. 16.000/kg itu biasanya harga beli pedagang eceran. Jika kita jual ke pedagang eceran maka 1 Ton belum sampai sehari juga sudah habis. Jadi kita bisa meraih keuntungan 2.380.000 dipotong biaya operasional sebesar Rp. 1.500.000 maka keuntungan bersih dalam sehari 880.000.
Berminat untuk usaha jual beli bawang merah ? mulailah dari modal kecil dulu sambil mempelajari seluk beluknya.
Bila anda berencana menjenguk sanak saudara ke Brebes, sebaiknya hati-hatilah untuk senyum di hadapan orang yang anda belum kenal atau belum mengenal anda. Kalau itu anda lakukan, maka siap-siaplah untuk ditinggal pergi atau sebaliknya akan segera menghampiri anda, mengajak ke warung untuk minum teh, ngopi, atau makan siang.
Anda tentu akan bertanya, “Apa kaitan semua itu dengan senyum?”
Bila anda seorang yang sangat lugu atau kuper maka tentu saja anda tidak akan paham, atau merasa hal itu tidak logis bahkan jauh dari rasional. Tapi percayalah, jangan lakukan itu. Kalau anda lakukan itu, siap-siaplah ditengarai menjadi seorang Calon Legislatif (Caleg) di Brebes yang akan bertarung pada Pileg 2014 nanti, sehingga amat perlu untuk mengambil hati masyarakat, dan anda memilih untuk senyum kepada siapa pun yang anda jumpai di sana, untuk mendapatkan simpati yang dengan demikian, akan memilih anda, nanti.
Dua hal yang mungkin anda peroleh.
Golongan pertama, segera meninggalkan anda, karena muak dengan senyuman tersebut, dengan menghubungkannya dengan perilaku pala legislator sekarang ini, yang sama sekali tidak mencerminkan apa yang dijanjikannya pada waktu yang lalu. Senyuman anda dianggap menjadi satu pelecehan, basa-basi, atau senyuman seorang yang munafik. Ibarat kata orang Sitanggal, “Doo, sebelum terpilih masih buka kaca, setelah terpilih, boro-boro…Maups!”
Golongan kedua akan segera mendekati anda. Dalam benaknya, senyuman anda adalah sebuah kesempatan. Bukankah kesempatan tidak datang dua kali? Anda akan segera disalami dan berbasa-basi, lalu menggiring anda masuk warung. Sudah tentu tujuannya agar anda membayari seluruh konsumsi selama di warung plus rokok, dan syukur-sukur, ketika akan pisah, anda menyalaminya dengan lembaran sang proklamator.
Kata-kiti, ini bukan tiki-taka ala Spanyol, saat ini di Brebes, para Caleg, sekali lagi, ini menurut kata-kiti, secara umum, para Caleg ini, mudah menebar senyum, agak royal, humanis, dan sepertinya menunjukkan jati diri sebagai seorang berjiwa sosial tinggi. Dan yang menonjol lagi, sontak memahami ayat-ayat Al-qur`an dan melontarkannya dalam setiap pertemuan, termasuk menyebarkannya dalam dunia maya; twitter, facebook, atau jejaring sosial lainnya. Padahal di luar itu, banyak di antaranya yang masih suka main mata dengan sesama jenis, terutama lain jenis, juga yang masih hobby bermain togel.
Terus terang, bukan terang terus seperti bohlam Philip, cara untuk meraih simpati orang lain, senyum itu efektif dan baik. Senyum merupakan bagian dari komunkasi dan disarankan oleh pakar komunikasi untuk melakukannya, karena selain baik bagi orang lain, senyum juga merupakan cara terbaik untuk mengobati diri pribadi yang senyum. Dengan senyum, hati yang luka menjadi sembuh. Bibir menjadi teratur tata letaknya. Tetapi, sekali lagi, kalau anda sungguh-sungguh berada di Brebes, baiklah tahan senyum anda sampai Pileg berakhir. Bukan apa-apa, karena selain senyum itu adalah milik para Caleg, anda pun jangan sampai atau terpaksa kehabisan ongkos untuk balik ke perantawan
Pagi-pagi temen nelpon minta dicariin kerjaan. Karena tahu kalau dia itu punya pengalaman jadi supir, dan kemaren ada temen yang cerita kalo ditawari jadi supir taksi "Manuk Ijo". Akhirnya kusampaikan kalau mau jadi supir taksi "Manuk Ijo" tersebut.
Ternyata dia malah tidak pengen jadi supir lagi, kutawarkan opsi lain berupa jualan, jualan apa saja lah tapi modal ga boleh lebih dari sejuta, karena cuma segitu dana yang bisa diputer jadi usaha. Akhirnya bingung sendiri dengan modal segitu mau jualan apa. Sampai telpon terputus karena ada tamu datang.
Setelah sang tamu pulang, aku jadi teringat akan rumah dikampung yang sementara ini dikontrakkan. Lokasi rumah tersebut di pinggir jalan, dan budaya orang situ yang suka cipok alias ngopi sambil ndopok bin ngobrol. Dan juga pengalamanku sendiri jika main ke rumah temen suguhan pertama pasti kopi. Akhirnya timbul ide untuk membuat Warung Kopi tapi biar keren dikasih nama Cafe.
Tapi kendala juga muncul, meski untuk tempat sudah tidak terlalu pusing mikir biaya sewanya, tapi interior mungkin kudu diisi, atau mungkin bisa juga dengan konsep lesehan, biar menekan biaya pembelian kursi dan meja. Tinggal mikir buat beli kompor dan alat-alat masak, gelas yang agak bagus dan unik agar ada kesan berbeda dengan ngopi di rumah.
Tapi bagaimana dengan orang yang datang sendirian ? masa hanya disuruh bengong ? karena kalo pengelola ngajak ngobrol kan tidak enak karena untuk menekan biaya operasional, pengelola juga harus merangkap jadi koki dan waitres. Tentunya butuh hiburan bisa dengan alunan musik dari MP3 player.
Belum lagi kejenuhan yang timbul jika selalu gitu-gitu aja, gimana jika konsep Cafe tersebut ditambah dengan televisi biar sesekali ada acara nonton bareng pertandingan sepakbola, atau sesekali diisi dengan nonton film berjamaah. ditambah fasilitas free wifi.
Bagaimana menurut anda para pembaca ? bisa berkembang tidak ya usaha seperti itu dikampung halamanku ?


