Showing posts with label masjid. Show all posts
Ini cerita tentang 2 orang guru muda favoritku, kakak beradik. Syeikh hani syaal(doktor dalam bidang syariah dan hukum internasional dan lulusan s2 sastra prancis) dan syeikh muhammad khair syaal(doktor hadis dan juga seorang dokter gigi). Yah dari jenjang akademisi mereka sukses menyatukan gelar di ilmu dunia dan ilmu akhirat.
Bahagia di dunia dan akhirat juga mereka tularkan dalam dakwah mereka, mereka tidak hanya berdakwah masalah ibadah atau teori-teori kehidupan, tapi mereka juga mempraktekkan teori agama dalam dakwah mereka. Selain itu tema-tema dakwah mereka juga tentang penyelesaian masalah sehari-hari.
Nah saat melihat politik suriah makin carut marut maka mereka menghidupkan pengajian tentang fikih krisis. Saat melihat anak muda tak terarah mereka membuat daurah dengan tema permasalahan anak muda dan solusinya. Tidak berhenti sampai disitu mereka juga mengumpulkan murid-murid dan sahabat mereka yang jauh dari mereka lalu mereka latih untuk mengajarkan hal yang sama di masjid mereka masing-masing, jadi ilmu yang ada bisa tersebar. Agama menjadi solusi bagi masalah yang mereka hadapi sehari-hari agama ini tidak sedang dilangit tapi dibumi maka harus bisa dinikmati penduduk bumi. Ah tapi kan itu teori doank, prakteknya?
tenang ini bukan cuma teori, misalnya saat krisis keuangan di suriah sedang memuncak maka mereka mengadakan pengajian khusus tentang mengatur keuangan dengan benar memadukan antara ilmu ekonomi modern dan hukum islam. Dan ini bukan cuma teori tapi juga dipraktekan, mereka tidak hanya berbicara islam membantu faqir miskin, syeikh muhammad khair syaal saat ini membawahi satu yayasan amal untuk membantu rakyat miskin, kalau gak salah, yayasan yang beliau kelola ini membantu sekitar 12 ribu keluarga, dengan bantuan uang sewa rumah perbulan dan kebutuhan pokok untuk sebulan, jadi keluarga yang kurang mampu ini hanya perlu berpikir bagaimana caranya berkembang karena masalah utama selesai, bukankah agama jadi solusi?
Saat melihat banyaknya konflik rumah tangga dan masalah percintaan anak muda mereka menggunakan pengajian khusus tentang hubungan lelaki dan wanita mulai dari masa pencarian lalu jatuh cinta terus perkenalan terus nikah malam pertama dan malam selanjutnya terus mempertahankan pernikahan bahkan setelah mati. Mereka membuat umat berfikir bahwa ternyata didalam agama ada semua solusi untuk permasalahan yang aku jalani sekarang. Lagi-lagi bukan cuma teori,
Syeikh hani syaal saat ini memimpin yayasan untuk membantu anak muda yang ingin menikah tapi kurang mampu, mereka di beri bantuan untuk mahar dan resepsi pernikahan, tapi sebelumnya mereka diwajibkan lebih dahulu mengikuti pengajian tentang teori pernikahan kurang lebih 2 bulan agar mengerti betul bagaimana menjalani rumah tangga dan tujuannya. Jadi gak hanya materi tapi juga wawasan dan ilmu.
Begitu juga untuk permasalahan ributnya menantu-mertua mereka juga memberi solusinya. Dengan mengajak menantu mertua ikut pengajian tentang hubungan menantu-mertua yang islamis. Begitu juga untuk masalah konflik rumah tangga mereka punya solusi bekerjasama antara jaksa, pengacara, hakim, psikolog, kementrian sosial dan hukum dan juga pakar agama untuk menyelesaikan masalah ini. Saat ini pihak kehakiman di suriah, di damaskus khususnya, setiap ada masalah perceraian maka tidak langsung masuk persidangan tapi dikirim dulu ke yayasan ustad ini untuk diselesaikan, dan alhamdulillah setengah dari mereka berhasil diselamatkan rumah tangganya.
Ketika banyak melihat anak-anak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna mereka mengumpulkan mereka untuk melakukan hal-hal yang berguna, mulai dari seni, olahraga, dan agama kegiatan dibuat menyenangkan. Lalu agar apa yang diajarkan ini juga sampai kerumah mereka membuat pengajian khusus untuk orang tua dalam mendidik.anak baik dari segi agama, psikologi, ekonomi, dll.
Begitu juga saat melihat banyak hati manusia yang kosong, terutama orang kaya, dan mencari solusi untuk mengisi hatinya. mereka membuat majlis zikir dan shalat malam mingguan di komplek orang kaya seperti hay malki. Terus agar membuat orang mencintai rosul mereka memperbanyak pengajian hadis dan sirah nabawiyah.
Lihatlah, agama mereka buat menjadi solusi dalam segala sisi kehidupan, agama tidak hanya membuat selamat di akhirat tapi juga menyelamatkan di dunia. Manfaatnya dirasakan langsung oleh umat, inilah yang namanya rahmatan lil alamin, kalau agama yang seperti ini yang disebarkan maka tentu orang-orang akan mendekati agama. Agama yang nggak jual mimpi tapi memberi bukti.
Nah kita lihat dakwah diri kita? Agama yang seperti apa yang kita sebarkan? Agama debat? Agama makian? Apa yang masyarakat rasakan dari agama yang kita sebarkan? Perubahan apa yang terjadi? Ingat nabi muhammad saw ketika datang ke madinah berhasil membangun pasar untuk membangun ekonom, mesjid sebagai pendidikan, piagam madinah untuk perdamaian, agama yang menjadi solusi, bukan agama teori. Apalagi agama makian dan agama debat, nggak banget dah!!
di copy dari tulisan ust. fauzan
di copy dari tulisan ust. fauzan
Sudah bukan menjadi rahasia lagi betapa kadang anak2 kehadirannya tidak begitu diharapkan di dalam masjid.
Anak2 dianggap pengganggu kekhusyukan dalam beribadah. Sehingga bahkan ada masjid yg terang2an menulis larangan anak masuk
Bahkan ada orang dewasa yg tak segan2 menghardik & mengancam mrk jika bermain dan bercanda. Masjid pun menjadi tempat menyeramkan
Anak2 pun mncari tmpt alternatif hiburan. Pilihannya playstation & game online. Permainan menyenangkan. Penjaganya pun menyambut ramah
Akhirnya pihak masjid pun susah mencari kader remaja masjid. Banyak remaja yg menolak, sebab waktu kecil selalu dimusuhi saat di masjid.
Sifat Allah yang Maha Rahman tak muncul dlm perilaku sebagian pengurus masjid yg galak dan suka bentak anak.
Anak2 lebih mengenal Allah yang Mahakeras siksanya dibandingkan Maha RahimNya. Sebab mereka banyak dihukum dan dimarahi jika bermain2 di masjid
Pun jika ada anak yg sungguh2 ibadah. Ternyata banyak mereka yg tak layak ada di shaf depan. Padahal mereka datang sejak awal.
Padahal hak ada di shaff depan adalah yg datang duluan, bukan berdasarkan usia.
Kadang saat sholat jumat pun, khatib lupa menyapa anak2. Lebih fokus kepada jamaah dewasa. Anak2 dianggap warga kelas dua.
Masjid sebagai pusat display agama, seharusnya menjadi tmpt untuk mengajarkan hakikat islam sesungguhnya : kasih sayang dan keramahan.
Tidak berminatnya remaja saat ini terhadap Islam, sebagian besar krn trauma di masa kecil akan tampilan islam khususnya di masjid
Masjid kalah bersaing dengan mall, warnet dan tempat permainan lain dimana penjaganya ramah dan murah senyum.
Banyak jamaah berebut menjalankan sunah di masjid. Lupa akan sunah yg lain yg diajarkan rasul : memuliakan anak2.
Sungguh indah saat rasul membawa cucunya, umamah dan husain ke masjid. Digembirakan mereka dgn digendong seraya bermain di masjid.
Demi memuaskan husain bermain di masjid, Rasul melamakan sujudnya agar ia puas menungganginya seperti kuda. Tak memarahinya.
Sahabat menduga lamanya sujud akibat datangnya wahyu. Mereka salah. Rasul menyengajakannya supaya anak2 puas bermain di masjid.
Kisah2 Rasul yg memuliakan anak di masjid mungkin jarang terdengar/sengaja dilupakan sebagian orang. Padahal mereka mengaku pencinta rasul.
Alhamdulillah setelah banyak dialog dengan pengurus masjid yg melarang anak2, akhirnya ada juga yang tercerahkan meski awalnya marah2.
Bahkan ada yg berinisiatif membuat ruang bermain bagi anak2 serta menyediakan pampers bagi anak2.
Biarlah anak betah bermain di masjid daripada memilih bermain di tempat lain yg menjauhkan mereka dari agama.
Jika sudah merasa nyaman di masjid. Barulah buat peraturan. Kapan harus bermain dan kapan harus ibadah. Mereka tentu bisa menerima.
Indahnya jika anak2 saat waktu luang, izin ke ortunya untuk pergi ke mesjid. Berlama2 disana. Masjid pun ramai.
Orang dewasa lain yg malas ke masjid pun jadi bergairah melihat masjid yg ramai. Jadilah setiap masyarakat memakmurkan masjid.
Maka dari sekarang mari membuat masjid sebagai tempat yang nyaman, ramah, bersih dan menyenangkan bagi anak2. Kelak mereka yg akan memakmurkan masjid.
Mudah2an ada pengurus masjid yg baca memulai gerakan ajak anak ke masjid ini.
Mudah2an berkenan di bagikan kepada sebanyak2 teman.
Tahun 2002 aku pindah menempati rumah baruku, saat itu masih bujangan, karena belum ada yang menemani malam-malanku, akupun jarang pulang ke rumah, akhirnya aku sering menginap di kontrakan lamaku. Oh iya aku tinggal di salah satu perumahan di daerah Tangerang. Setelah satu persatu teman-teman di kontrakan pada pulang kampung dan ada juga yang memulai hidup baru dengan istrinya. Akhirnya akupun memantapkan hati menempati rumahku. Karena saat itu kerja kena shift, kadangkala siang ada di rumah
Saat itu aku sedang duduk santai sambil ngopi ditambah bengong karena ga ada teman ngobrol, tetangga terdekat berjarak 10 Meter dan karena siang rata-rata pada kerja aku diam saja daripada nyamperin ke rumah tetangga cuma ujung-ujungnya cuma ngerumpi sama ibu-ibu mending di rumah saja. Eh tau-tau terdengar ucapan salam, ternyata petugas pencari dana dengan membawa surat permohonan, aku lihat Surat itu untuk pembangunan sebuah masjid aku lupa nama masjidnya, katanya dari kampung sebelah (di luar komplek perumahan), di suratnya itu ada daftar para donatur dan ditulisnya daftar yang ngasih itu ada yang ngasih Rp 20.000, miniman Rp 10.000. Pikirku biasa aja namanya juga buat bangun masjid pada ingin beramal buat bekal di akhirat nanti. Aku kasih segitu juga.
Kedua Bulan berikutnya ada yang datang lagi, petugas pencari dana masjid. Sambil bawa surat dan daftar pemberi donator, biasa catatanya pada ngasih Rp. 10.000 - Rp. 20.000.
Ketiga selisih sebulan lagi ada yang datang lagi, petugas pencari dana masjid. Sambil bawa surat dan
daftar pemberi donator, biasa catatanya pada ngasih Rp. 10.000 - Rp.
20.000.
Ke empat datang lagi beda bulan beda masjid. Tapi kali ini emak-emak minta sumbangan buat masjid juga, aku tanya dari masjid mana? Dia jawab dari Bogor, aku bilang jauh amat bu (ibunya emang terlihat udah kelihatan capek/memelas pake sedal jepit jalan keliling komplek), aku ceramahin disitu, kenapa gak pemudanya aja bu yang keliling cari sumbangan, kan kasian ibu kalau jauh-jauh jalan Cuma cari sumbangan masjid pemudanya kan pasti ada, trus aku lanjutin lagi, kenapa gak pake proposal aja diajuin ke Depag kek atau pemerintah Arab atau ke yang lain. Si ibu masih nungguin sambil memelas nunggu di kasih sumbangan, tapi ane gak kasih. Soalnya menurut saya tidak masuk akal aja.dan aku cuma berani sama emak-emak doank..
Begitu terus selang sebulan pasti ada yang datang lagi, jika dulu cuma Rp. 10.000 sampai Rp. 20.000 sekarang meningkat menjadi Rp. 50.000 sampai Rp. 100.000. seiring meningkatnya gaji buruh meningkat juga jumlah sumbangan yang tertulis. Beberapa bulan kemaren datang lagi, kali ini dari masjid “Al-Ikhas”. Aku bilang aja kok tiap bulan minta sumbangan pak, kemaren perasaan baru aja minta. Bapaknya kaget sedikit melotot agak takut, sambil bilang tidak mas baru ini kok. Aku bilang tidak ah kemaren udah ada yang minta juga kok (padahal aku juga tidak tahu yang sebelum-sebelumnya dari mana aja). Nah di daftarnya itu juga biasa yang ngasih gila-gilaan diatas Rp.50.000 semua.
Karena mendengar isu-isu yang beredar bahwa sumbangan tersebut bukan buat masjid tapi buat kepentingan pribadi akhirnya aku berfikir untuk sekali-kali ngerjain mereka sekaligus untuk tes kejujuran mereka. Namanya sumbangan seiklasnya, aku mau kasih Rp. 2.000 aja, tapi karena merasa tidak enak, akhirnya aku kasih Rp. 2.000. Tujuannya buat merubah daftar disitu, agar yang lain, ayng merasa keberatan dan malu untuk menyumbang dengan nominal yang kecil tidak malu-malu lagi dan tidak menggerutu lagi. Makanya aku kasih saja Rp. 5.000, pas aku kasih ditanyain ditulis tidak mas, aku bilang ditulis dong. Nulisnya kelihatan malas-malasan dan sekedar tulis saja.
Nah di bulan November ini, Datang lagi orangnya santun banget, salamnya aja sambil nunduk. Dan masih masjid yang sama “Al Ikhlas”. Daftar sumbangannya masih sama juga gede-gede, ampun deh, Aku makin curiga saja, kenapa pembangunan masjidnya tidak beres-beres juga, tidak ngasih juga tidak enak nanti kalau emang bener. Akhirnya aku kasih Rp. 5.000. Nah pas aku kasih ditanyain lagi, ditulis tidak mas, aku bilang ditulis dong, pas nulis cuma ditulis nama saja aku tungguin aku ikutin sampai teras kok nominal Rp. 5000 yang aku kasih tidak ditulis-tulis juga. Curiga aku kalau nanti ditulis jadi Rp. 100.000 biar nanti yang berikutnya ikut ngasih yang gede juga. Coba kalau daftarnya Cuma ditulis Rp. 1.000, Rp. 2.000 atau Rp. 5000 pasti yang lain ikutan segitu juga.
Nah pas dia pergi aku cariin lagi di komplek udah tidak kelihatan lagi orangnya, sebelumnya mereka jalan nyebar 3 orang di komplek. Aku Cuma penasaran tadi yang aku kasih DITULIS BERAPA? Habis itu aku ketemu temanku, cerita itu juga, Nah tetangga ane sebelah itu, menolak mentah-mentah peminta sumbangan itu, berani banget, padahal belum lama pindahan, beda blok sih, dia ngambil rumah oper kredit.
Ditanyain Petugas Sumbangan (PS) sama Temanku (T):
T: dari mana?
PS: dari masjid kampung sebalah pak (tutur katanya santun)
T: mana gak ada kampong sebelah lagi bangun masjid “Al ikhlas” (padahal temanku juga tidak tau, ppindah juga baru sehari)
PS: gak pak tadi udah lapor sama pak RT
T: RT mana?
PS: Iya sama Pak Rudi, disana pak (sambil nunjukin tempatnya)
T: mana ada RT Pak Rudi, yang ada mah rumah pak RT di belakang situ bukan disana namanya juga Pak Situmorang (sebelumnya yang ditunjukin sama PS)
PS: .. Pergi gak dikasih duit…
Dalam hatiku aduh…, apa selama ini aku emang ditipu yaaa…
Sebaiknya kalau ada peminta sumbangan dan kita ragu akan kebenarannya, mintalah petugas tersebut untuk ijin dulu sama RT RW setempat. Kecuali kalo kita sudah ikhlas bener silahkan saja, karena kadangkala itu adalah ujian keikhlasan bagi kita untuk menyisihkan sebagian harta yang kita punya.
Dan sebaiknya dalam memberi sumbangan rutin setiap minggu, langsung saja ke Masjid terdekat, atau ke anak yatim atau janda-janda yang sudah tidak mampu untuk bekerja, sementara hidupnya tidak ada yang menanggung. Jangan sampai kita bisa makan kenyang sementara ada tetangga yang sama sekali tidak memiliki makanan untuk sekadar pengganjal perutnya.
BERBAGI ITU INDAH ... BERBAGI ITU PENUH BERKAH ...
Musim mudik telah berlalu, namun cerita tentang mudik belum berakhir. Masih bakal ada lanjutan cerita tentang mudik.
Seperti cerita beberapa kawan yang melakukan mudik ke berbagai kampung halaman sesuai daerah asalnya masing-masing ... namun cerita tentang masjid pada saat mudik terkadang membuat galau.
Bagaimana tidak galau, jika masjid yang diperuntukkan untuk ber-tasbih, mendirikan shalat, membaca kalam Ilahi, dan berdoa kepada-Nya, sedikit mendapat tambahan sebagai tempat berjual beli. Sebetulnya tidak hanya pas mudik saja sih fenomena masjid menjadi tempat berjual beli ... pada saat hari Jum`at pun banyak yang berjualan di lokasi masjid.
Berikut hukum tentang berjualan di masjid
Masjid didirikan untuk menegakkan peribadahan kepada Allah Ta’ala; ber-tasbih, mendirikan shalat, membaca kalam Ilahi, dan berdoa kepada-Nya,
Pada ayat ini dijelaskan bahwa masjid adalah tempat untuk menegakkan ibadah kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana dijelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar menegakkan peribadatan kepada-Nya tidaklah menjadi terlalaikan atau tersibukkan dari peribatannya hanya karena mengurusi perniagaan dan pekerjaannya. Apalagi sampai menjadikan masjid sebagai tempat untuk berniaga.فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ رِجَالُُ لاَّتُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَبَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَآءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَاْلأَبْصَار
“Di rumah-rumah yang di sana Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, di sana ber-tasbih (menyucikan)-Nya pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hari dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. an-Nur: 36-37).
إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجِلَّ وَتاصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya, masjid-masjid ini hanyalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, shalat, dan bacaan al-Qur’an.” (HR. Muslim, no. 285).Demikianlah karakter orang-orang yang memakmurkan rumah-rumah Allah. Tidak heran bila Allah Ta’ala memuji orang-orang yang menggunakan masjid sesuai fungsinya dengan berfirman,
Sebagai konsekuensi dari ini, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari berniaga di dalam masjid. Beliau bersabda,إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ فَعَسَى أُوْلاَئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ“Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah: 18).
Dahulu, Atha’ bin Yasar bila menjumpai orang yang hendak berjualan di dalam masjid, beliau menghardiknya dengan berkata, “Hendaknya engkau pergi ke pasar dunia, sedangkan ini adalah pasar akhirat.” (HR. Imam Malik dalam al-Muwaththa’, 2/244, no. 601).إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِيْ الْمَسْجِدِ فَقُولُوا: لاَ أَرْبَحَ اللهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُم مَنْ يُنْشِدُ فِيْهِ ضَالَةً فَقُولُوا: لاَ رَدَّ الههُ عَلَيْكَ“Bila engkau mendapatkan orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya, ‘Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu.’ Dan bila engkau menyaksikan orang yang mengumumkan kehilangan barang di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya, ‘Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang.’” (HR. at-Tirmidzi, no. 1321, dan oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits shahih dalam Irwa’ul Ghalil, 5/134, no. 1295).
Berdasarkan ini semua, banyak ulama yang mengharamkan jual-beli di dalam masjid.
Adapun teras masjid yang ada di sekeliling masjid, bila berada dalam satu kompleks (areal) dengan masjid –karena masuk dalam batas pagar masjid–, maka tidak diragukan hukum masjid berlaku padanya. Hal ini karena para ulama telah menggariskan satu kaidah yang menyatakan,
Kaidah ini disarikan oleh para ulama ahli fikih dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْحَرِيْمُ لَهُ حُكْمُ مَا هُوَ حَرِيْمٌ لَهُ“Sekelilingnya sesuatu memliki hukum yang sama dengan hukum yang berlaku pada sesuatu tersebut.” (Al-Asybah wan Nazha’ir: 240, as-Suyuthi).
Akan tetapi, bila teras tersebut berada di luar pagar masjid, atau terpisahkan dari masjid oleh jalan atau gang, maka hukum masjid tidak berlaku padanya.إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ“Sesungguhnya yang halal itu nyata, dan yang haram pun nyata. Sedangkan antara keduanya (halal dan haram) terdapat hal-hal yang diragukan (syubhat) yang tidak diketahui kebanyakan orang. Maka barangsiapa menghindari syubhat, berarti ia telah menjaga keutuhan agama dan kehormatannya. Sedangkan barangsiapa yang terjatuh ke dalam hal-hal syubhat, niscaya ia terjatuh ke dalam hal haram. Perumpamaannya bagaikan seorang penggembala yang menggembala (gembalaannya) di sekitar wilayah terlarang (hutan lindung), tak lama lagi gembalaannya akan memasuki wilayah itu. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki wilayah terlarang. Ketahuilah, bahwa wilayah terlarang Allah adalah hal-hal yang Dia haramkan.” (HR. al-Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599).
Semoga tidak adalagi yang berjualan di lingkungan masjid.
Kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan, waspadalah ... waspadalah ... waspadalah ...
Itu kalimat yang sering dilontarkan oleh Bang Napi dari sel salah satu televisi di Indonesia. Dan memang benar jika ada niat dan kesempatan, penjahat akan bertindak, tak perduli lagi akan tempat.
Seperti yang terjadi di beberapa tempat ibadah, terutama masjid yang ramai dan berada di pinggir jalan raya. meskipun yang masuk ke gang juga banyak juga yang kehilangan sehabis melaksanakan kebutuhannya untuk shalat menghadap Yang Maha Kuasa. minimal kehilangan sandal jepit ... apa karena pengaruh ceramah dari ustadz yang hanya separuhnya saja yang di dengar ? Ambillah yang baik tinggalkan yang buruk ? belum lengkap penjelasan dari ustadz dia sudah pulang duluan ... akhirnya sandal orang yang bagus di ambil dan sandal dia yang jelek ditinggalin.
Kembali ke laptop !
Maling kadang tak perduli sedang berada dimana dalam menjalankan aksinya. Tak perduli di tempat maksiat maupun tempat suci seperti masjid. Selagi ada kesempatan dan memang sudah diniatkan langsung sikat. Dan masjid adalah tempat yang sangat menguntungkan bagi mereka yang berniat untuk mencuri, karena pada saat orang shalat mereka tidak memperdulikan barang bawaannya karena sedang khusyu` mengadu dan berkeluh kesah kepada Allah.
Karena keteledoran mereka juga berbagai macam barang berharga hilang di masjid, seperti HP, Laptop, tas, dompet, bahkan sandal jepit sering berganti kepemilikan secara tak sah. Sehingga menimbulkan kesan bahwa Masjid adalah tempat yang tidak aman. Padahal jika masjid memiliki bagian penitipan barang, hal itu bisa di minimalisir karena ada petugas yang menjaga barang bawaan jamaah. Tak masalah jika dikenai biaya penitipan sewajarnya meskipun akan lebih baik jika digratiskan, tapi disediakan kotak amal bagi yang memakai jasanya.
Sebuah contoh area yang sangat mendukung untuk mencuri salah satunya adalah MASJID ISTIQLAL. Jika berkesempatan melakukan sholat di masjid Istiqlal, coba perhatikan jamaah yang datang dari berbagai penjuru Indonesia, karena inilah masjid kebanggaan orang Indonesia, sehingga jika ke Jakarta mereka menyempatkan diri untuk shalat di Masjid tersebut, tak jarang jamaah tersebut barang miliknya raib ga berbekas gara-gara ulah oknum-oknum maling yang pura-pura ikut sholat, apalagi di Bulan Ramadhan.
Pada saat buka puasa Masjid Istiqlal selalu menyediakan menu berbuka yang enak-enak sehingga selalu ramai, nah setelah adzan berkumandang para hadirin langsung berbuka puasa dan tak lama berselang pada bergegas mengambil ambil wudhu dan ikut sholat berjamaah. Nah....disinilah peluang emas bagi para maling untuk memiliki barang-barang jamaah, karena banyak jamaah yang terlihat asal menaruh tas entah itu isinya laptop atau HP dan sebagainya.
Biasanya maling beraksi pada saat jamaah sujud, dan biasanya terjadi di rakaat kedua atau rakaat terakhir, yang situasinya sedang hening, karena jarang ada tambahan jamaah yang baru datang. Kalaupun ada yang melihat karena baru datang mereka tak akan dicurigai mengambil barang yang bukan miliknya.
Pada saat mengambil air wudhu, juga diharapkan untuk berhati-hati, disini adalah job para pencopet, karena banyaknya jamaah yang antri mau ambil air wudlu dan seperti biasa banyak yang berdesak-desakan. Tidak hanya milik jamaah yang datang korban mereka. Kalau ke Masjid Istiqlal cobalah baca tulisan di pintu masuk toilet "BUAT ORANG2 YANG SUKA NGAMBIL PERALATAN TOILET MASJID, INSYAFLAH KARNA ANDA BESOK PASTI MATI!!.."Punya masjidpun juga diembat benar-benar keterlaluan, sebenernya tidak hanya masjid Istiqlal saja, ada beberapa masjid yang oknum malingnya berkeliaran, bahkan kotak amal juga diincer.
Untuk itu sekedar tips saja buat yang mau berjamaah di masjid dengan membawa barang bawaan
1. Titipkan tas atau barang-barang yang ukurannya besar, tapi dompet, HP, gadget, kamera DSLR atau laptop sebaiknya bawa saja buat keamanan. Kalau jaket sebaiknya dititipkan , tentu saja dalam keadaan kosong jaketnya.
2. Taruhlah tas kecil yang berisi HP, gadget, kamera DSLR atau laptop di depan shaff !...pas anda sholat selalu didepan anda, inget taruhlah didepan!!, karena maling-maling mengincar orang yang lengah menaruh barang bawaannya di belakang.
3. Kalau anda datang berdua atau lebih dengan membawa barang bawaan yang banyak, usahakan shalatnya bergiliran, sehingga ada yang menjaga barang bawaan. Jika waktu shalat masih memungkinkan untuk bergiliran. Kalau waktu sudah mendekati shalat waktu berikutnya ikuti tips no 2
4. Perhatikan orang-orang yang mencurigakan di sekitar anda, kalo dirasa kurang aman anda salat ambil shaf terdepan deket mimbar biar aman...
5. Jika membawa mobil atau motor gemboklah kendaraan anda atau kunci ganda, dan jangan tinggalkan barang berharga di kendaraan, bahaya!!, bawa saja buat keamanan.
7. Di zaman yang semakin edan ini ... ingatlah bahwa tidak semua orang yang di masjid itu baik, sekedar berbagi pengalaman saja, ada saja oknum-oknum yang nyamar ikut sholat tapi niat mau berbuat jahat. Karena itu tetaplah waspada, sekalipun di masjid, serta berdoalah kepada ALLAH agar senantiasa di kasih perlindungan.
8. Jika anda datang sendirian, usahakan setelah shalat membaca AlQuran. disamping itu merupakan ibadah juga membantu orang-orang yang sedang shalat, karena dengan adanya orang yang membaca AlQuran, malingpun akan berfikir dua kali untuk menjalankan aksinya.
9. Jangan lupa untuk bersodaqoh di kotak amal masjid, selain sebagai rasa terimakasih karena sudah mendapatkan tempat untuk beribadah dan beristirahat juga agar berkah dan aman ( kata ustadz Yusuf Manyur sedekah mencegah bala dan mendatangkan rizki). Jangan terlalu pelit.
Seperti biasa kalau hari Jum`at setiap muslim diwajibkan shalat jum`at. Nah kalau shalat jum`at apa yang dibawa ? GOLOK atau PECI ?
Pada ibadah sholat jum'at ini merupakan wadah bagi kita untuk menyalurkan infaq kita walaupun hanya seminggu sekali.
1 tahun = 52 minggu
Jika setiap muslim dalam setiap sholat jum'at membawa GOLOK (uang Rp. 1000) ini perhitungannya.
1000 x 52 = Rp. 52.000
Jika suatu masjid jumlah jamaah sholat jum'at 100 maka:
52000 x 100 = Rp. 5.200.000
Jadi uang yang diterima masjid dalam satu tahun adalah Rp. 5.200.000
Uang 5,2 juta bisa digunakan misalnya untuk beli karpet masjid, untuk menservice mikrofon, sound dan lain-lain
Bayangkan jika setiap shalat jum`at setiap muslim membawa PECI MERAH (Rp. 100.000) ... tentu merupakan penghasilan yang fantastis untuk masjid yang bersangkutan
Pada ibadah sholat jum'at ini merupakan wadah bagi kita untuk menyalurkan infaq kita walaupun hanya seminggu sekali.
1 tahun = 52 minggu
Jika setiap muslim dalam setiap sholat jum'at membawa GOLOK (uang Rp. 1000) ini perhitungannya.
1000 x 52 = Rp. 52.000
Jika suatu masjid jumlah jamaah sholat jum'at 100 maka:
52000 x 100 = Rp. 5.200.000
Jadi uang yang diterima masjid dalam satu tahun adalah Rp. 5.200.000
Uang 5,2 juta bisa digunakan misalnya untuk beli karpet masjid, untuk menservice mikrofon, sound dan lain-lain
Bayangkan jika setiap shalat jum`at setiap muslim membawa PECI MERAH (Rp. 100.000) ... tentu merupakan penghasilan yang fantastis untuk masjid yang bersangkutan
Rp. 520.000.000
dengan penghasilan sebesar itu dalam setahun tentunya pengurus masjid tidak hanya sekedar berfikir untuk membeli karpet masjid atau bayar listrik saja tapi mudah-mudahan pengurus masjid berfikir untuk mensejahterakan warga sekitar masjid dengan memberikan bantuan modal tanpa bunga, menyediakan fasilitas pendidikan yang berkualitas, memberangkatkan asatidnya haji minimal satu ustad pertahun dan lain-lain.
Mari bersedekah seperti tidak pernah melakukan apa-apa dan kita rasakan seperti untuk pertama kalinya bersedekah walaupun kenyataannya sudah berulangkali. Dengan seperti itu InsyaAllah keikhlasan akan lestari didalam hati kita juga menghilangkan riya' serta kita akan terus bersedekah dan hanya mengharap ridho Allah SWT.
Tapi meski hanya membawa golok saat ibadah Jum`at, uang seribu yang diinfaqkan, walaupun kecil itu sangat berarti. Mulailah sedekah, segala
sesuatunya dimulai dari hal-hal kecil. Semoga kita semuanya mendapatkan
pahala dari Allah SWT, Aamiin
Mungkin kita akan beralasan, tidak mengapa infaq tiap Jum`atan sedikit yang penting ikhlas?
Sedikitnya berapa? Seribu? kenapa tidak ditingkatkan saja sedikitnya jadi Rp.10.000?
Jangan beralasan yang penting ikhlas. Jangan pelitlah dalam berinfaq
Karena dalam pikiran saya, tidak ada orang yang memasukan duit ke kotak amal tidak ikhlas. Pasti ikhlas ! karena itu sumbangan sukarela, kotaknya diedarin. Kalau tidak ikhlas sepertinya lebih kearah tidak memasukan duit ke kotak amal tersebut. Berbeda dengan bersedekah sama pengemis apalagi pengamen.
Jadi, alangkah baiknya nilai infaq kita tiap Jum`at dinaikan dari Rp. 1000 menjadi Rp. 10.000, malu dong sanggup membeli paket internet, sanggup membeli rokok tapi buat sedekah susah.
Lagian Allah janji, inget, janji (dimana Allah tidak pernah ingkar janji sebagaimana kita) bakal ganti uang yang kita sedekahin berlipat ganda. Apalagi Allah menjanjikan bahwa apa yang kita infaqkan akan dikalikan 10, jika Rp. 1000 / perjum`at maka dalam setahun akan diganti menjadi Rp.520.000 apalagi di Bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba akan dilipatgandakan lagi.
Lagian Allah janji, inget, janji (dimana Allah tidak pernah ingkar janji sebagaimana kita) bakal ganti uang yang kita sedekahin berlipat ganda. Apalagi Allah menjanjikan bahwa apa yang kita infaqkan akan dikalikan 10, jika Rp. 1000 / perjum`at maka dalam setahun akan diganti menjadi Rp.520.000 apalagi di Bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba akan dilipatgandakan lagi.
Ya tentunya ini bukan hitungan matematis sederhana, karena Allah bisa memberikan balasan dalam bentuk berbeda-beda. Tapi yang jelas, selain manfaat buat mesjidnya, banyak manfaat buat kita juga, di antaranya sebagai investasi, karena Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Ingat rumus ikhlas dalam artikel blog ini beberapa hari yang lalu disini
Mari kita rubah kebiasaan kita bersedekah dengan mengambil lembaran dengan nilai terkecil di dompet kita menjadi lembaran terbesar di dompet kita.
Insya Allah jika sudah menjadi kebiasaan maka keikhlasan akan terbentuk dengan sendirinya.






