Saturday, May 17, 2014

Meninggalnya ibu mertuaku membuatku melangkahkan kaki menuju lampung utara. Sebetulnya sudah jauh-jauh hari diniatkan untuk menengok beliau di bulan mei ini. Namun rencana hanya tinggal rencana. Karena saat kami sekeluarga datang jangankan berkangen ria, melihat wajahnya yang terakhir kalinyapun kami tak sempat. Kami datang pas setelah acara pemakaman selesai.

Tapi tak mengapa, karena itu lebih baik buat beliau, pemakaman sebaiknya dipercepat tanpa perlu menunggu sanak saudara yang berada jauh. Menyegerakan pemakaman adalah salah satu sunnah Rasul.

Bersamaan dengan keberadaan kami di bumi ruwai jurai, kami mendapati pedagang dan pencari ikan  dadakan. Hal itu disebabkan dibukanya bendungan arum, yang mengalirkan airnya ke sungai batanghari, membuat banyak ikan yang terbawa arus, lumayan bisa membuat beberapa warga disekitar sungai batanghari memperoleh rejeki tambahan. Menurut Bp. Haidir yang rumahnya tak jauh dari Sungai Batanghari, dia bisa mendapatkan ikan sebanyak 5 ember dalam sehari, dan dijual oleh istrinya dengan harga Rp. 2.000,- / canting (seukuran kaleng sus kental manis). Dalam seember itu bisa memuat 40 - 50 canting, suatu jumlah yang cukup lumayan untuk kegiatan iseng mengisi waktu luang.

Suasana Sungai Batanghari

Sungai Batanghari

Jembatan Sungai Batanghari

Bp. Haidir mencari ikan

Ikan Seluang yang dijual

Pedagang dadakan Ikan Seluang

Ikan Seluang yang baru tertangkap

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments


HITSTAT

Total Pageviews

Popular Post

- Copyright © 2013 Catatan Harian Awanul Hamzah| Powered by Blogger